Be Smart in VBAC

Hi moms..
Begituuu banyak yang menanyakan bagaimana mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk VBAC.

Jika moms belum hamil, yuk ikuti program “Be Fit and Sexy Programme”.

image

Namun jika sudah hamil, ikuti program “My Doula for VBAC”.

image

Disana kamu akan dibantu persiapkan diri sebaik mungkin untuk menguatkan otot rahim dan panggul agar siap melakukan persalinan dengan lebih lancar, in syaAllah 😉

For your information, dr Henny sendiri mempersiapkan diri terutama dengan mengkoreksi nutrisi sejak rencana VBA2C gagal.

VBA3C yang dilakukan memang sukses, namun setelah dijalani.. Ada beberapa hal yang luput dari persiapan. Shg persalinan berjalan dengan berbagai kesulitan yang tak bisa dijelaskan karena bersifat pribadi.

Well.. Have a nice weekend ya moms.. Persiapkan diri dengan baik yuukk..

Prophet Muhammad (pbuh) said: “If Allah wants to do good to somebody, He afflicts him trials” [Sahih Bukhari: Volume 7, Book 70, Number 548]

“Human Milk is for Human Babies” – “Breastfeeding is Norm” – “Immune is Breastmilk”

Salaam,

dr Henny Zainal

Konsultasi Online (Senin-Jumat, Jam 16.00 – 16.00 wib)
😄 Email :
drhennyzainal@gmail.com
😄 Chat :
Whatsapp 081383285000
Hangouts drhennyzainal@gmail.com

Advertisements

Faiza’s Birth Story

“Saya berhasil melahirkan normal setelah 3 kali melahirkan melalui C-secs (operasi ceasar)!”

Setelah 3 kali melahirkan melalui operasi C-secs, ibu 4 anak, Henny Zainal, yg juga seorang dokter, tidak pernah menyangka ia dapat melahirkan secara normal dan alami dirumah. Ia menceritakan bagaimana ia melawan sesuatu yang banyak orang bilang bahwa hal tersebut tidak mungkin.

Saya mengetahui kalau hamil lagi pada Mei 2011. Satu sisi saya bersyukur atas karunia yg diberikan, namun bersamaan saya bingung dan takut. Anak saya yang termuda baru 5 bulan dan masih diberikan ASIX.

Teman2 terkejut dengan berita kehamilan saya dan bertanya apa yang akan saya lakukan, apakah akan menjalani operasi C-secs yang ke empat atau justru akan mencoba melahirkan secara normal (Vaginal Birth)? 

Pertama kali mendengar tentang adanya teori “melahirkan normal setelah 3 kali operasi C-secs (Vaginal Birth After 3 C-section/ VBA3C)”, saya langsung berpikir, “gila kali ya! Ga mungkin ah ngelahirin normal habis 3 kali ceasar”! Saya ini dokter dan tau bahwa VBAC itu beresiko tinggi terhadap robeknya dinding rahim, itu yang mereka ajarkan pada saya selama ini.”

Mengenang pengalaman operasi C-sec yang tidak menyenangkan

Operasi C-secs saya yang terakhir begitu buruk dan menyiksa. Yang pertama seperti “okelaah, ga begitu buruk”, kedua “Astaghfirullaah, harus operasi lagi ya?, dan yang ketiga, “ya Allah yg maha kuasa, mengapa Engkau buat aku harus operasi lagi”.

Pengalaman yang terakhir ini betul-betul tidak menyenangkan dan sangat menyakitkan.
Pasca operasi sesar ketiga dimana bayi dilahirkan secara pada usia kehamilan 32 minggu, tenaga kesehatan lupa untuk memberikan obat penghilang nyeri kepada saya.

Saat itu saya pun sudah mengingatkan, namun hanya ditanggapi dengan “Ibu, operasi sesar itu semakin banyak memang semakin sakit”. Tenaga kesehatan baru menyadari kelalaian mereka saat kunjungan dokter yang melakukan operasi pada esok harinya. 

Saya kaget, karena rasa sakit yang saya alami tidak diperhatikan oleh mereka. Antara nyeri yang tak tertahankan itu, suamipun memberi kabar bahwa bayi saya yang dilahirkan pada usia kehamilan 32 minggu harus dirawat di Neonatal intensive care unit (NICU) karena komplikasi paru-paru setelah 3 jam lahir.

Pada kehamilan ini, saya terus berpikir, “Haruskah saya mengulanginya lagi? Ataukah ada pilihan proses persalinan lain yang lebih nyaman untukku dan bayiku?”

Saya beruntung mempunyai banyak teman yang mendukung dengan berbagi pengalaman dan membantu saya membuat keputusan melalui pembelajaran semua informasi dengan pikiran terbuka (informed choice) melalui berbagai jurnal penelitian dan laporan. 

Meskipun sudah pernah mendengar tentang VBAC setelah bayi sebelumnya saya lahir, tidak pernah terpikir hal itu dapat dilakukan tanpa resiko. 

Melalui Facebook, saya bertemu dengan, Dani, dia berhasil melakukan VBA3C dengan jarak antara kelahiran dan hamilnya lebih dari 2 tahun, sedangkan saya hanya 5 bulan. Selama ini saya tahunya bahwa kehamilan jarak dekat beresiko tinggi terhadap persalinan normal, maka biasanya ibu diwajibkan untuk operasi sesar.

Lewat Facebook juga, saya bertemu dengan Rachael Ouwajen. Dia menceritakan tentang seorang ibu yang sukses menjalani VBA4C. Jarak antara kelahiran dan hamilnya sama dengan saya, 5 bulan. Mengetahui hal itu, saya begitu kagum dengan kemampuannya dan mulai muncul keyakinan bahwa saya pun bisa melakukannya.

Mencari dukungan

Tujuh bulan menuju tanggal perkiraan kelahiran, saya akhirnya dengan mantap membuat keputusan untuk mencoba VBA3C. Saya mulai mencari bidan atau dokter yang mau mendukung dan membantu saya menjalaninya. Selama berminggu-minggu usaha saya tidak membuahkan hasil. Kebanyakan mereka skeptis terhadap rencana saya.

Memasuki usia kehamilan 4 bulan, suami memberi ultimatum –segera temukan dokternya atau batalkan rencana VBA3Cnya. Saya kehabisan akal dan meminta pertolongan Allah.
Beberapa hari kemudian, doa saya terjawab. Kami menemukan dokter kandungan yg pro kelahiran- ormal pasca sesar di daerah Jakarta Selatan. Bahagia karena beliau berpengalaman sukses menangani beberapa VBA2C. 

Lalu saya berkata kepada suami, “Sebelum mengambil keputusan apapun, paling nggak konsultasi dulu sama dokter ini deh ya? Ini badanku dan aku yang akan mengalami sakit dan traumanya. Aku ga bermaksud menyakiti bayi kita, tapi setidaknya biarkan aku menemuinya dulu baru kita buat keputusan setelahnya.” Alhamdulillah, Suami setuju untuk menemui dokter tersebut.

Keberuntungan bersama kami, dokter tersebut setuju untuk membantu saya melakukan VBA3C. Dia mengatakan, “Sebetulnya, setiap rahim ibu –apakah sudah pernah melahirkan normal ataupun operasi C-secs- akan kembali ke kondisi normal 3 bulan setelah melahirkan. Saya akan membantumu jika kamu punya keberanian dan keyakinan untuk mencoba VBA3C.”

Dia juga menjelaskan bahwa tanda-tanda yang harus diperhatikan jika terjadinya robekan rahim salah satunya adalah rasa sakit di rahim ketika disentuh dan/atau bercampurnya darah dalam urin. Jika tanda-tanda itu tidak muncul maka berarti persalinan normal tetap aman untuk dilanjutkan.

Keyakinan suami pun meningkat setelah mendengar pejelasan sang dokter. Matanya memancarkan kepercayaan dan harapan. Hatiku begitu lega dan penuh rasa syukur. Setelah bertemu sang dokter suami menjadi termotivasi dan mulai meneliti tentang VBAC. Kami melihat video kelahiran alami (natural birth) di youtube bersama-sama. Akhirnya setelah berminggu-minggu berupaya meyakinkan suami, kali ini saya tidak sendirian lagi menempuh semua ini.

Plan B

Dua bulan sebelum melahirkan, sang dokter tidak setuju rencana saya untuk melahirkan secara alami, yang berarti tidak menggunakan bantuan medis seperti vacuum suction. Saya meyakini bahwa persalinan secara alami dengan minim intervensi medis akan lebih baik bagi kami, tetapi sang dokter menolak untuk membantu saya menjalani VBA3C secara alami. 

Sekali lagi, saya merasa tersungkur. Dalam usaha terakhir saya meraih dukungan, saya menghubungi orang-orang yang mungkin dapat membatu saya melalui sosial media. Bahkan saya menawarkan kesempatan untuk menjadi bagian dari pengalaman melahirkan langka kepada sebuah komunitas online yang kemungkinan disana terdapat para bidan.

Tak seorangpun merespon

Pada januari 2012 sebulan sebelum melahirkan, saya dengan Mas Reza Gunawan lagi-lagi melalui Facebook dan dari percakapan kami terungkap perihal unassisted birth (UC). 
Lalu saya mempelajari lebih jauh perihal persalinan sendiri tanpa bantuan tenaga kesehatan (Unasissted childbirth/UC).

Ketika ide ini disampaikan kepada suami, beliau langsung menolaknya. Keadaan berubah setelah saya mengapa suami untuk bertemu Mas Reza, yang dengan sabar membagi kebijaksanaan dan pengetahuannya dengan kami. Saya juga sangat gembira dengan kesempatan bertemu istrinya, Dewi Lestari, yang seorang penyanyi dan penulis terkenal.

Suami meneruskan usahanya meneliti kelahiran alami dan unassisted. Dia melahap bacaan tentang melahirkan di rumah (home birth), kegawat daruratan dalam persalinan dan pasca persalinan, serta beberapa topik yang relevan. 

Sejujurnya dalam hati, saya agak bingung dan kuatir bagaimana kami akan melakukan semuanya sendiri. Bisakah suamiku melakukannya? Dia cuma punya kurang dari sebulan untuk mempersiapkan dirinya dan saya tidak yakin waktunya cukup.

Hari itupun tiba

29 januari 2012, saya bertemu dengan seorang bidan yang bersedia mendukung saya selama proses melahirkan. Setelah berdiskusi selama 4 hari, saya berhasil meyakinkannya bahwa kami siap!

Esok harinya, saya mengalami sedikit pendarahan dan kontraksi setiap 5 sampai 8 menit. Bidan datang, setelah dicek dia mengatakan bahwa pembukaannya baru 1cm. Saya diminta bersabar dan terus berlatih napas, menjaga emosi dan nutrisi.

2 hari berlalu, tidak ada kemajuan yang berarti walaupun kadang saya mengalami kontraksi. Saya dapat merasakan si bayi bergerak maju turun ke bawah. Saya terus berdoa, memohon pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala dan tak lupa untuk mengajak bicara bayi bahwa kami tidak sendirian. Ada Allah subhanahu wa ta’ala yang selalu bersama kita dan In syaAllah kita dapat melalui semua ini bersama-sama.

1 Februari 2012, kontraksinya bertambah kuat, berjarak setiap 1 menit. Bidan datang dan mengecek, pembukaan baru 2 cm. Kehamilan sudah melewati HPL, dimana seharusnya HPL adalah 14 Januari 2012. Kami sudah melewati lebih dari 2 minggu dari perkiraan manusia.

Ketika itu, saya merasa sangat lelah dan berupaya menjaga energi dengan madu dan kurma. Semua berjalan lancar –tidak ada tanda-tanda robekan rahim walaupun mengalami sakit yang luar biasa di setiap kontraksi.

Jam 10 malam, pembukaannya sudah 4-5 cm. Secara mental, saya sempat drop karena rasa sakit yang luar biasa tak tertahankan dan merengek ke suami untuk segera ke rumah sakit memilih sesar saja. Suami menguatkan diri saya bahwa in isyaAllah kami bisa melaluinya dengan pertolongan Allah. Akhirnya saya pun tertidur karena kelelahan. 

Ketuban saya pecah tak lama setelah tengah malam dan pembukaan sudah 7-8 cm. Saya kemudian masuk ke dalam kolam air, terlihat bahwa air ketuban berwarna hijau. Sebagai dokter, selama ini saya mendapatkan informasi akan keburukan ketuban hijau. Namun ternyata itu tidaklah tepat, bukan sebagai hal yang menakutkan.

Bidan mengecek detak jantung bayi saya dan menyatakan bahwa bayi baik-baik saja. Tak ada hal yang perlu ditakutkan. Informasi yang diberikan dengan sigap oleh bidan, sangat membantu saya untuk lebih rileks dalam persalinan ini.

Tidak lama setelahnya, saya merasakan bayi terus mendesak turun keluar. Saya merasakan tubuh mengajak untuk nungging dan saya ikuti maunya tubuh ini bergerak. Bidan meminta suami untuk membantu persalinan saya. Beliau duduk di belakang saya dan terus memperhatikan bayi yang mulai keluar perlahan. Saya dapat merasakan rambutnya yang lembut.

Tiba-tiba bidan menyuruh saya merubah posisi menjadi duduk karena airnya tidak cukup banyak untuk menyambut bayi keluar dari rahim dan hal tersebut bisa membahayakan si bayi. 
Setelah saya duduk, bayi pun perlahan keluar dan disambut oleh suami saya. Hati saya dipenuhi kebahagiaan yang tak terkira saat akhirnya melihat kepala bayi keluar perlahan.
Ketika bayi keluar, terlihat bahwa tali pusat membelit lehernya. Suami diminta untuk membuka tali pusat yang membelit leher dengan perlahan. Akhirnya, Faiza lahir pada tanggal 2.02.2012 jam 02.00 dengan selamat ke pangkuan ayahnya dan kemudian diletakkan ke dada ibunya. 

Pertama kali saya menatap matanya.. Aahh.. Sungguh tak terkira kebahagiaan yang dirasakan. Dada saya bak pecah oleh luapan kebahagiaan dan airmata mengalir tanpa disadari. 

WE DID IT..!!!

Hantaman badai ketidakpercayaan banyak pihak..
Hantaman badai penghinaan banyak pihak..
Semua itu terjawab lewat kuasa Allah subhanahu wa ta’ala..

Saya berhasil dengan ijin Allah, do’a kami terkabulkan!
Saya mematahkan mitos bahwa sekali sesar maka seterusnya akan sesar. Selain itu, saya membuktikan bahwa HPL bukanlah Hari Pasti Lahir. 
HPL benar-benar hanya Hari Perkiraan Lahir, hanya sebuah dugaan berdasarkan perhitungan manusia. Sedangkan manusia tempatnya kesalahan, tiada kebenaran yang valid pada manusia kecuali Muhammad shalallaahu alayhi wa salam.

Persalinan merupakan kehendak Allah, Ia-lah yang menentukan kapan bayi lahir dan tiada yang tahu dengan tepat kapan. Semua ini tidak akan terjadi tanpa pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala. 

Keyakinan yang sejak awal hamil kali ini saya miliki bahwa jika Allah subhanahu wa ta’ala menanamkan janin dalam rahim wanita, maka sesungguhnya rahim itu kuat. Karena Allah Maha Tahu. 
Keyakinan yang semakin kuat sampai akhir, diperoleh lewat pembelajaran dengan pikiran secara terbuka dan bertanggung jawab. 

Terima kasih banyak kepada teman-teman saya yang terus mendampingi sejak awal.
Rachael Ouwejan, Dani Arnold McKenny, Maria Zain rahimahullah, Lynsey Bartram, Emma Kwasnica dan Natacha Dority yang sudah mendukung dan menyemangati saya dalam suka dan duka sampai akhir.

Setiap wanita dapat melahirkan secara normal. Persalinan sejatinya adalah proses alamiah, pengalaman yang begitu indah dan menyenangkan 

Percayalah kepada Allah, IA-lah yang menentukan kapan bayimu lahir dan IA-lah yang menuntunmu dan bayimu melalui proses indah ini..

(Sebagian kisah ini diterbitkan di majalah terbitan Malaysia, Baby Talk, edisi “Bump To Birth, Birth-Day”, hal. 32 -33, di bulan Juni 2012.)
Semoga bermanfaat dan menjadi inspirasi bagi setiap ibu yang sedang menanti buah hati dan berada dalam persimpangan, “haruskah sesar ataukah normal?”.

Cat. Tambahan :

Sejujurnya dr riwayat kehamilan dan persalinan saya, maka seharusnya sebagai orang medis saya paham bahwa kondisi saya merupakan kontraindikasi untuk persalinan normal. Sekali lagi keberhasilan persalinan ini atas ijin Allah sebagai pelajaran bahwa ilmu manusia terbatas, jika Allah sudah berkehendak maka tiada siapapun bisa menghentikannya.

1. Janin letak kepala. 
Melewati HPL, induksi gagal dan hasilnya adalah Bayi Letak Kepala. Pembelajaran untuk saya adalah ketakutan akan melewati HPL, akhirnya berujung induksi Yang terburu-buru dan ternyata sebetulnya bayi belum turun. Sehingga induksi gagal karena janin masih diatas, belum masuk rongga panggul.

2. Robekan rahim.
Post SC pertama terjadi abses cukup lama, kosong 3 bulan dimana sebetulnya luka belum kering. Terjadi perlengketan yang cukup hebat antara dinding rahim dan perut. Menurut ayah saya yg seorang dokter bedah dimana beliau ikut dalam ruang operasi saat itu, kondisi otot rahim dan otot perut tercerabut spt daging suwir. Bayi dilahirkan prematur usia 32 minggu karena sejak kehamilan 5 bulan sudah muncul gejala robekan rahim. 

Kondisi ini sebetulnya sdh cukup untuk menjadikan diri saya menghentikan niat VBA3C. Banyak yg berkomentar negatif bahwa saya nekat. 
Well.. Saya hanya bs jawab, “Nekat itu klo modal dengkul. Alhamdulillah keberhasilan ini adl semua krn ijin Allah, dimana Allah bukakan jalan pd kami utk optimalkan pembelajaran dan do’a selama masa kehamilan. Mereka cuma bisa berkomentar, tetapi tidak tahu bgm perjuangan kami.” Jd abaikan saja mulut-mulut negatif itu. Terus fokus dg rencana yg baik.

3. Kuretase usia kehamilan 8 minggu

4. Sesar ke 3, yaitu ancaman robekan rahim. 
Kontraksi palsu cukup kuat di usia kehamilan 35 minggu, keluar flek. Saat ini saya belum mempelajari lebih jauh perihal VBAC, namun sudah mendengar soal VBAC. Sehingga keyakinan saya belumlah kuat untuk melakukan VBA2C.

(Untuk masalah tali pusat, bisa dibuka album “Lotus birth perlukah?” https://www.facebook.com/media/set/?set=a.464469667068932.1073741836.463002300549002&type=3)

image