10 Kekeliruan dalam Komunikasi

Bismillahirrahmaanirrahiim,
Sebuah tulisan yang saya peroleh dari Catatan FB mba Rumah Zahro. Tulisan ini merupakan rangkuman seminar dari ibu Dra. Elly Risman, Psi. dalam seminar: Peran Komunikasi Orang Tua dalam Membangun Pribadi Anak yang Tangguh Menyongsong Era Milenium Development Goals di Cilegon, 21 April 2011. Semoga bermanfaat untuk meningkatkan keharmonisan antara orang tua dan anak

10 Kekeliruan dalam Komunikasi
Komunikasi yang kurang baik antara orang tua dengan anak, suami dengan istri, maupun sebaliknya adalah penyebab tingginya angka kenakalan remaja dan perceraian suami istri. Bukan masalah frekuensi komunikasinya. Sering berkomunikasi tapi tidak sampai pada tujuan alias ‘gak nyambung’ bisa juga menjadi masalah.

Elly Risman menyebutkan beberapa masalah yang muncul karena miss-communication:
– Pacaran ( selingkuh buat suami/istri)
– Seks bebas
– Aborsi
– Putus sekolah
– MBA (Married By Accident: Nikah karena hamil duluan)
– Perceraian
– Narkoba
– HIV/AIDS
– Bunuh Diri

Beberapa tahun yang lalu, kita sempat dikejutkan oleh kasus anak 5,9 tahun yang gantung diri karena dimarahi ayahnya malam hari sebelum tragedi itu terjadi. Padahal sebelumnya, ia habis dimarahi ibunya karena tidak mau mandi sore. Keesokan paginya, ia ditemukan gantung diri dengan tali melilit lehernya di sebuah rumah kosong. Anak tersebut bernama Renaldi Sembiring. Ayahnya adalah seorang pengacara di Semarang (ada juga yang bilang hakim). Ini hanya 1 kasus dari puluhan kasus bunuh diri anak akibat orang tua tidak memahami perkembangan jiwa anak dan mengabaikan perasaan mereka ketika berkomunikasi. Na’udzubillahimindzalik.

10 kekeliruan dalam berkomunikasi yaitu:
1. Bicara tergesa-gesa.
Pemandangan yang lazim di pagi hari ketika ibu berteriak kepada anaknya: “Cepaattttt…!! Sudah jam berapa ini ayo mandi siapin baju jangan lupa buku-bukunya masukin ke tas langsung sarapan tuh sepatu dan kaos kakinya di belakang pintu buruan keburu mobil jemputan dateng pokoknya kalo ketinggalan jemputan Mama gak mau nganter!”

Walah, paleng’e… Butuh konsentrasi tinggi untuk menangkap puluhan kata yang diteriakkan bagai laju kereta api itu. Apakah anak mendengarkan? Bagaimana responnya? Paling ia berjalan gontai ke kamar mandi seperti tidak terjadi apa-apa. Karena sudah terbiasa dengan kicauan itu setiap hari.

Lantas, apa gunanya teriak-teriak gak jelas seperti itu? Bagi orang tua:
– Menghabiskan energi
– Dongkol
– Makin emosi

Bagi anak:
– Makin sebel sama orang tua
– Gak ngaruh dibegitukan, sudah biasa.

Solusinya?
Tidak tergesa-gesa ketika bicara, atur kalimat, jangan emosi sehingga lawan bicara mengerti apa yang kita komunikasikan.

2. Tidak kenal diri sendiri.
Mari kita uji coba. Sebutkan 3 keunikan Anda yang berbeda dari orang lain. Entah itu kebiasaan, hobby, warna kesukaan. Waktunya 1 menit!

Apakah Anda kesulitan menemukan keunikan Anda? Ya, kebanyakan peserta seminar memang bingung. Alasannya: tergesa-gesa, keburu waktu, panik. Namun alasan sesungguhnya adalah: Anda tidak mengenal diri Anda sendiri. Bukankah kalau kenal- bisa reflek menyebutkan keunikan diri sendiri?

Lantas, apakah kita sudah mengenal keunikan pasangan hidup kita? Anak kita?

Disinilah pentingnya mengenali lawan bicara ketika sebelum berkomunikasi. Adakalanya suami begitu angkuh dan cuek ketika istri nangis bombay saat berantem. Bisa jadi karena waktu kecil, sang suami dididik ayahnya kalau : laki-laki gak boleh nangis!. Besarnya pun ia akan anti nangis, malah tidak suka melihat orang nangis. Atau istri begitu sensitif karena sering diremehkan oleh orang tuanya.

Atau anak kita :
Usia 5 tahun, ketika disuruh: “Sayang, buangin sampah, dong, ketempatnya!”. Sang anak pasti dengan senang hati melakukannya.
Usia 7 tahun, ketika disuruh hal yang sama, responnya : “Ntar!” atau “Kok, gak mamah aja?”
Usia 10 tahun, responnya : “Capek!” alias menolak untuk diperintah.

Ternyata, cara bicara orang tua yang itu-itu saja tidak membuat anak makin pintar atau nurut. Anak jenuh dan bosan dari kecil diperlakukan seperti itu. Itulah mengapa orang tua harus kenal, tanggap dan menggunakan bahasa komunikasi yang berbeda sesuai perkembangan jiwa dan pertambahan umur anak.

Kenali lawan bicara kita.

3. Lupa : setiap individu U N I K.
Dari jutaan sperma yang menghampiri sel telur, hanya 1 sperma yang paling unggul, paling kuat, dan paling berkualitas yang mampu menembus ke dalam sel telur dan membuahinya. Baik sel sperma maupun sel telur turut bertanggungjawab menghasilkan zigot yang terlahir sebagai bayi mungil untuk orang tuanya. Tapi kenapa kebanyakan suami selalu membebankan pengasuhan dan pendidikan anak kepada istri? Bukankah anak itu hasil dari suami istri berdua?

Kemudian, betapa banyak orang tua yang kesulitan memiliki anak, bersedia mengeluarkan uang ratusan juta rupiah dan melakukan pengorbanan besar agar ada suara tangis bayi di rumahnya.

Tetapi, mengapa orang tua yang dimudahkan Allah untuk memiliki keturunan tidak mensyukuri hal ini?

Tidak jarang ketika orang tua greget melihat kenakalan anaknya lantas berkata, “Iiiiiiiiihh..!! Sebenarnya kamu anak siapa, siihhh!!!”
Jika terus menerus dibegitukan, lama-lama anak akan bertanya, “Iya, yah, aku ini anak siapa, sih?”

Kembali, bahwa anak terlahir, apapun keadaannya, kekurangan dan kelebihannya, itu atas kuasa Allah Azza wa Jalla semata. Ada anak yang terlahir normal, mewarisi kecerdasan, dan kelincahan. Ada pula yang terlahir dengan kekurangan seperti:dislexia (kesulitan membaca), disgrafia (kesulitan menulis) dan diskalkulia (kesulitan berhitung). Semua itu adalah keunikan anak yang harus dihargai, disyukuri. Tentunya orangtua tidak bisa memaksa anak yang dislexia untuk cepat membaca, anak diisgrafia untuk menulis indah, dan seterusnya. Perlakukan anak sesuai keadaan dan keunikannya.

Setiap individu berbeda. Perlakukan ia sebagai pribadi yang unik.

4. Perbedaan Needs and Wants (Kebutuhan dan keinginan)
Anak menyukai design grafis, tapi orang tua ingin anaknya jadi dokter. Jelas dua kebutuhan dan keinginan yang berbeda ini menjadi pemicu salah paham dan ketidakharmonisan. Orang tua tidak punya banyak waktu untuk mempertimbangkan keinginan anak. Orang tua mengabaikan kebutuhan anak. Akhirnya berujung pada pemaksaan kehendak dari orang tua kepada anaknya. Adu urat syaraf sudah menjadi skenario sehari-hari.Padahal yang menjalani hidup adalah anaknya, bukan orang tuanya. Yang kenal kemampuan diri sendiri adalah anak, bukan orang lain.

Ada pula orang tua yang sibuk bekerja dan memberikan apapun kebutuhan materi yang diperlukan anak. Padahal anak membutuhkan kasih sayang orang tuanya. Tapi orang tua merasa sudah mencukupi keinginan dan kebutuhan anak. Maka hancurlah hubungan. Satu sama lain tidak nyambung. Anak butuh A, orang tua ngasih Z.

Sadari dan pahami bahwa keinginan dan kebutuhan tiap individu itu BERBEDA!

5. Tidak membaca bahasa tubuh
Ketika anak memecahkan gelas, otomatis sang ibu berteriak dan memarahi. Tak jarang juga yang main fisik dengan memukul atau mencubit.

Seandainya ada rekaman video ketika anak menyenggol gelas dan memecahkannya, perhatikan ekspresinya. Mulutnya menganga, sekujur tubuhnya tegang tak berkutik, kedua tangannya kaku, ekspresinya menunjukkan kekhawatiran, rasa penyesalan dan ketakutan kalau dimarahi. Jika sang ibu membaca bahasa tubuh anak, masihkah tega untuk memarahinya? Anak sudah ketakutan, masih ditambah dengan dimarahi dan dipukul. Begitu berhargakah sebuah gelas dibandingkan perkembangan jiwa anak?

Lidah bisa berbohong, tapi bahasa tubuh tidak. Baca bahasa tubuh.

6. Tidak mendengar perasaan.
Bayangkan anak Anda, pulang sekolah, kehujanan, membawa ransel berat di punggungnya, pulang ke rumah dengan sepatu belepotan lumpur. Ia masuk dengan wajah cemberut, melepas sepatu yang penuh lumpur dengan menendangnya, dan melempar tas ke mana saja. PadahalPadahal Anda sudah susah payah menyapu, mengepel dan membereskan rumah.

Apa yang Anda lakukan?
“Hei, apa-apaan kamu! Masuk gak salam, sepatu dilempar sembarangan, lantai jadi kotor, tuh! Ayok beresin! Taruh yang bener!”

Sebagai anak, apa yang akan dilakukan? Sudah pasti langsung masuk kamar dan menguncinya. Males ngomong dengan ibunya.

Kita ulang lagi kejadian di atas. Ketika anak melempar sepatu dan tasnya, perhatikan ekspresinya. Ya! Ia lelah, capek, lapar, pusing.

Ketika Anda mengenali perasaannya, dan berkata, “Wah, anak ibu sudah pulang. Capek, ya?”

Kira-kira, apa respon anak?
“Ngga!” sambil manyun. Setidaknya ia mau ngomong.

Jangan menyerah, coba kenali perasaan yang lain dan jangan takut salah. “Oh, pasti laper?”
Jawab anak, “Ngga!”

Ibu : “Lagi kesal?”
Anak : “Iya! Tadi PR aku ketinggalan di rumah. Aku disetrap Pak Guru. Eh, si Riko ngetawain aku di bangkunya. Pulang sekolah aku mau jajan, laper, tapi uangku hilang. Terus si Riko dan teman-temannya menjegal kakiku sampai aku jatuh. Aku kesakitan, tapi aku paksa aja karena mau pulang. Uuhh, di tengah jalan malah hujan. Mana becek lagi!”

Wow, ternyata masalah yang dihadapi anak begitu bertubi-tubi. Perasaan dia sedang marah, kesal, dongkol dan capek. Masihkah tega memarahinya?

Dari dua kejadian di atas, manakah komunikasi yang baik?
Dengarkanlah perasaan. Tandai pesan dari gelagat dan bahasa tubuhnya. Jangkau perasan lawan bicara. Buka komunikasi dengan menamai perasaan lawan bicara, misal: Capek, ya? Marah? Wah, kesal, dong?.
Jangan takut salah, karena lawan bicara akan dengan senang hati membetulkan. O,ya, kalau ibu merespon dengan kata, “Duh, kasihan anak ibu.” Itu tidak tepat. Karena kasihan itu adalah perasaan ibu. Bukan perasaan anak. Dengan menyebut seperti itu, sama saja dengan menghentikan curhatan anak. Konsentrasilah pada perasaan anak. Biarkan emosi dan permasalahannya keluar sehingga ia tenang.

7. Menggunakan 12 gaya populer.
a. Memerintah.
b. Menyalahkan
c. Meremehkan
d. Membandingkan
e. Mencap/label
f. Menasehati
h. Membohongi
i. Menghibur
j. Mengritik
k. Menyindir
l. Menganalisa.

(Catatan penulis: yang dimaksud memerintah, menasihati dan menghibur di atas adalah ketika dilakukan dengan cara yang salah)

-Memerintah :
“Eh.. eh.. eh… jangan lewat situuu…!! ntar jatuuhhh..!!!”
Tapi anak makin penasaran, malah tambah ngebut main sepedanya. Akhirnya si anak beneran jatuh dan nangis sekencang-kencangnya.

-Menyalahkan
“Naaahh…kaann!! Jatuh juga! Mama bilang apa tadi? Kamu sih dikasih tau gak mau denger!”
(Ya, iya, tau. Abisnya Mama gak bilang di situ ada lobang. Kalau bilang ada lobang kan, saya gak akan lewat situ!”)

– Meremehkan
“Halaaah, luka kecil aja nangis!” Anak meringis kesakitan, sambil megangin lututnya yang lecet dan berdarah. Kagetnya juga belum hilang. (Luka segede ini masak dibilang kecil? Jadi luka gede itu seperti apa, yak?)

– Membandingkan
Anak dibawa ke dalam rumah. Di sana ada papanya. Kata papa, “Kemarin temen kamu, si Difta, jatuh dari sepeda gak nangis, tuh!” (Beeu… dia ya dia, gue ya gue!)

– Mencap/ label
Kata papa lagi, “Jangan cengeng, ah! Anak papah gak ada yang cengeng!”. (Ini nahan sakit bukan cengeng, plus sebel! Lagi sakit bukannya dihibur!)

– Mengancam
“Kalau masih nangis gak dibeliin mainan lagi, lho!”. (Ya, elaaahh….ditambah ngancem lagi, sebeeellll bin benciiiii!!)

– Menasihati
“Lain kali, kalau mama ngomong itu didenger yah!”. (iya, iya udah tauuuuuuuuuuuuuukkkkkkkkkkkkkk!!)

– Membohongi & Menghibur
“Ah, luka cemen gitu mah besok juga sembuh!”
Keesokan harinya, ketika mandi pagi, lukanya terkena air dan terasa perih. Pikir anak: “Sakiiit, kata mama papa lukanya sembuh besok, ini kan udah besok, kok belum sembuh?”; anak bingung. Ia tahu kalau papa mamanya berbohong. “Berarti bohong itu boleh, kan papa mama udah bohongin aku.” Si anak belajar bohong langsung dari orang tuanya sendiri.

-Mengritik
“Kamu tuh kalau dibilangin suka ngeyel, gak mau denger! Tau rasa kan akibatnya!”. (Isi sendiri deh, gimana perasaan anak kalau dibegitukan, hehehe)

– Menyindir
“Biasanya, kalau anak bandel itu suka sial nasibnya. Jatuuhh melulu!”. (…………..)

– Menganalisa
“Kalau seorang anak tidak mendengar nasihat ibunya, sudah pasti kualat tuh. Papa yakin kamu denger peringatan mama, tapi kamu langgar, kan? Mangkanya kamu jatuh. Itu peringatan buat kamu supaya lain kali jangan diulangi lagi!”. (Zzzzzzzzzzzzz)

Akibat menggunakan 12 gaya populer tidak pada tempat dan porsinya alias sekenanya:
– Anak tidak percaya pada perasaannya sendiri. “Kata saya sakit, tapi kata mama, segini itu gak sakit.”
– Tidak percaya pada diri sendiri.

8. Tidak memisahkan: Masalah Siapa?
Ketika anak pulang sekolah, ia baru sadar kalau tugas prakaryanya yang belum selesai ketinggalan di rumah temannya. “Ibu,…tugasku ketinggalan di rumah temen. Padahal besok harus dikumpulin. Kalau belum selesai dan gak dikumpulin, ntar aku dihukum bu guru. Anterin, dong, bu…!”

Sebagai orang tua tentu tidak tega melihat anaknya susah. Pilihannya dua, membantu atau membiarkan. Salah memilih tindakan, akan berakibat fatal bagi perkembangan anak.

Tapi, sebagai orang tua harus bisa memisahkan masalah siapa. Prakarya ketinggalan di rumah teman adalah masalah yang ditimbulkan anak. Bukan masalah orang tua. Ajarkan anak untuk menyelesaikan masalahnya. Apapun pilihan anak, pasti ada konsekuensinya.

Jika orang tua berhasil dalam tahap ini, maka anak terbiasa untuk berpikir, memilih dan mengambil keputusan. Anak pun akan menjadi pribadi yang mandiri dan bertanggung jawab.

Anak perlu BBM : Berfikir – Memilih – Mengambil Keputusan.

9. Kurang mendengar aktif.
Betapa banyaknya orang tua yang sok tahu permasalahan anak padahal dia tidak tahu apapun. Ketika anak mendapat nilai jelek, kesimpulan orang tua :malas belajar. Padahal ia sedang bermasalah dengan kesehatan matanya, temannya atau cara pengajaran gurunya.

Orang tua tidak punya waktu untuk mendengarkan permasalahan anak. Tidak heran banyak anak yang tidak patuh pada orang tua sendiri tapi nurut pada guru (yang baik) atau orang lain. Hal itu dikarenakan orang tua tidak menempatkan diri sebagaiproblem solving tapi malah nambah problem anak.

Jadilah cermin untuk menjadi pendengar aktif.

– “oo.. begitu?”

– “Hmm… masya Allah..”

– “… terus?”

– “Sedih bener, dong?”

– “Kecewa, ya?”

– “… hmm, mangkanya kamu marah betul…”

Menjadi pendengar aktif akan membuka komunikasi dan hubungan yang harmonis dengan lawan bicara.

10. Selalu menunjuk, “kamu!”
“Kamu, tuh, ya, jadi anak bla bla bla…!”
“Kamu, kok, begitu? bla bla bla..!”

Lawan bicara akan tersudutkan dan reflek untuk membela diri sehingga terjadilah cekcok.
Seharusnya:
Sampaikan pesan S A Y A:
“Saya……. (sampaikan perasaan Anda)…….kalau ……… karena………..

Contoh:
“Papa tidak suka kalau kamu pulang malam karena berbahaya untuk kesehatanmu.”

—————- THE END ——————

Note : Catatan ini bukan antara orang tua dengan anak saja, tapi bisa juga direfleksikan kepada suami/istri atau siapapun lawan bicara kita.

Semoga bermanfaat ^^

Bagi temans yang ingin nge share/copas/sebarluaskan, dipersilakan.

Alhamdulillahirobbil’alaamiin.

image

💝LELAHMU BERBUAH CINTA💝

🌾LELAH ITU NIKMAT🌾

Ummahatu fillah……
Ada lelah…..
Ada letih…….
Tapi Allah jatuh cinta disebabkan lelah dan letihnya kita…..
Ada lelah ada letih yg dicintai oleh yg Maha Mencintai…..

💝1. Lelah dalam berjihad di jalan-Nya (QS. 9:111)

💝2. Lelah dalam berda’wah/mengajak kepada  (QS.41:33)

💝3. Lelah dalam beribadah dan beramal sholeh (QS.29:69)

💝4. Lelah mengandung, melahirkan, menyusui. merawat dan mendidik putra/putri amanah Illahi (QS. 31:14)

💝5. Lelah dalam mencari nafkah halal (QS. 62:10)

💝6. Lelah mengurus keluarga (QS. 66:6)

💝7. Lelah dalam belajar/menuntut ilmu (QS. 3:79)

💝8. Lelah dalam kesusahan, kekurangan dan sakit (QS.2:155)

Semoga kelelahan dan kepayahan yang kita rasakan menjadi bagian yang disukai Allah dan RasulNya. Aamiin yaa Rabbal-‘aalamiin

▶Lelah itu nikmat. Bagaimana mungkin? Logikanya bagaimana? Jika anda seorang ayah, yang seharian bekerja keras mencari nafkah sehingga pulang ke rumah dalam kelelahan yang sangat. Itu adalah nikmat Allah swt yang luar biasa, karena banyak orang yang saat ini menganggur dan bingung mencari kerja.

▶Jika anda seorang istri yang selalu kelelahan dengan tugas rumah tangga dan tugas melayani suami yang tidak pernah habis. Sungguh itu nikmat luar biasa, karena betapa banyak wanita sedang menanti-nanti untuk menjadi seorang istri, namun jodoh tak kunjung hadir.

▶Jika kita orang tua yang sangat lelah tiap hari, karena merawat dan mendidik anak-anak, sungguh itu nikmat yang luar biasa. Karena betapa banyak pasangan yang sedang menanti hadirnya buah hati, sementara Allah  belum berkenan memberi amanah.

▶Lelah dalam Mencari Nafkah

Suatu ketika Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam dan para sahabat melihat ada seorang laki-laki yang sangat rajin dan ulet dalam bekerja, seorang sahabat berkomentar: “Wahai Rasulullah, andai saja keuletannya itu dipergunakannya di jalan Allah.”

Rasulullah Shalallahu alaihi wa salam menjawab: “Apabila dia keluar mencari rezeki karena anaknya yang masih kecil, maka dia di jalan Allah. Apabila dia keluar mencari rejeki karena kedua orang tuanya yang sudah renta, maka dia di jalan Allah. Apabila dia keluar mencari rejeki karena dirinya sendiri supaya terjaga harga dirinya, maka dia di jalan Al
lah. Apabila dia keluar mencari rejeki karena riya’ dan kesombongan, maka dia di jalan setan.” (Al-Mundziri, At-Targhîb wa At-Tarhîb).

▶Sungguh penghargaan yang luar biasa kepada siapa pun yang lelah bekerja mencari nafkah. Islam memandang bahwa usaha mencukupi kebutuhan hidup di dunia juga memiliki dimensi akhirat.

▶Bahkan secara khusus Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam memberikan kabar gembira kepada siapa pun yang kelelahan dalam mencari rejeki. “Barangsiapa pada malam hari merasakan kelelahan mencari rejeki pada siang harinya, maka pada malam itu ia diampuni dosanya oleh Allah Subhaanallah wa ta’ala.”

▶Subhanallah, tidak ada yang sia-sia bagi seorang muslim, kecuali di dalamnya selalu ada keutamaan.

Kelelahan dalam bekerja bisa mengantarkan meraih kebahagiaan dunia berupa harta, di sisi lain dia mendapatkan keutamaan akhirat dengan terhapusnya dosa-dosa. Syaratnya bekerja dan lelah. Bukankah ini bukti tak terbantahkan, bahwa kelelahan ternyata nikmat yang luar biasa?

▶Kelelahan Mendidik Anak

Di hari kiamat kelak, ada sepasang orangtua yang diberi dua pakaian (teramat indah) yang belum pernah dikenakan oleh penduduk bumi.

Keduanya bingung dan bertanya: ”Dengan amalan apa kami bisa memperoleh pakaian seperti ini?” Dikatakan kepada mereka: “Dengan (kesabaran)mu dalam mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anakmu.”

▶Merawat dan mendidik anak untuk menjadi generasi shaleh/shalehah bukan urusan yang mudah. Betapa berat dan sangat melelahkan. Harta saja tidak cukup.

▶Betapa banyak orang-orang kaya yang anaknya “gagal” karena mereka sibuk mencari harta, namun abai terhadap pendidikan anak. Mereka mengira dengan uang segalanya bisa diwujudkan. Namun, uang dibuat tidak berdaya saat anak-anak telah menjadi pendurhaka.

▶Berbahagialah manusia yang selama ini merasakan kelelahan dan berhati-hatilah yang tidak mau berlelah-lelah. Segala sesuatu ada hitungannya di sisi Allah . Kebaikan yang besar mendapat keutamaan, kebaikan kecil tidak akan pernah terlupakan.

Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda: “Pahalamu sesuai dengan kadar lelahmu.”

image

Copas dari sebelah

Faiza’s Birth Story

“Saya berhasil melahirkan normal setelah 3 kali melahirkan melalui C-secs (operasi ceasar)!”

Setelah 3 kali melahirkan melalui operasi C-secs, ibu 4 anak, Henny Zainal, yg juga seorang dokter, tidak pernah menyangka ia dapat melahirkan secara normal dan alami dirumah. Ia menceritakan bagaimana ia melawan sesuatu yang banyak orang bilang bahwa hal tersebut tidak mungkin.

Saya mengetahui kalau hamil lagi pada Mei 2011. Satu sisi saya bersyukur atas karunia yg diberikan, namun bersamaan saya bingung dan takut. Anak saya yang termuda baru 5 bulan dan masih diberikan ASIX.

Teman2 terkejut dengan berita kehamilan saya dan bertanya apa yang akan saya lakukan, apakah akan menjalani operasi C-secs yang ke empat atau justru akan mencoba melahirkan secara normal (Vaginal Birth)? 

Pertama kali mendengar tentang adanya teori “melahirkan normal setelah 3 kali operasi C-secs (Vaginal Birth After 3 C-section/ VBA3C)”, saya langsung berpikir, “gila kali ya! Ga mungkin ah ngelahirin normal habis 3 kali ceasar”! Saya ini dokter dan tau bahwa VBAC itu beresiko tinggi terhadap robeknya dinding rahim, itu yang mereka ajarkan pada saya selama ini.”

Mengenang pengalaman operasi C-sec yang tidak menyenangkan

Operasi C-secs saya yang terakhir begitu buruk dan menyiksa. Yang pertama seperti “okelaah, ga begitu buruk”, kedua “Astaghfirullaah, harus operasi lagi ya?, dan yang ketiga, “ya Allah yg maha kuasa, mengapa Engkau buat aku harus operasi lagi”.

Pengalaman yang terakhir ini betul-betul tidak menyenangkan dan sangat menyakitkan.
Pasca operasi sesar ketiga dimana bayi dilahirkan secara pada usia kehamilan 32 minggu, tenaga kesehatan lupa untuk memberikan obat penghilang nyeri kepada saya.

Saat itu saya pun sudah mengingatkan, namun hanya ditanggapi dengan “Ibu, operasi sesar itu semakin banyak memang semakin sakit”. Tenaga kesehatan baru menyadari kelalaian mereka saat kunjungan dokter yang melakukan operasi pada esok harinya. 

Saya kaget, karena rasa sakit yang saya alami tidak diperhatikan oleh mereka. Antara nyeri yang tak tertahankan itu, suamipun memberi kabar bahwa bayi saya yang dilahirkan pada usia kehamilan 32 minggu harus dirawat di Neonatal intensive care unit (NICU) karena komplikasi paru-paru setelah 3 jam lahir.

Pada kehamilan ini, saya terus berpikir, “Haruskah saya mengulanginya lagi? Ataukah ada pilihan proses persalinan lain yang lebih nyaman untukku dan bayiku?”

Saya beruntung mempunyai banyak teman yang mendukung dengan berbagi pengalaman dan membantu saya membuat keputusan melalui pembelajaran semua informasi dengan pikiran terbuka (informed choice) melalui berbagai jurnal penelitian dan laporan. 

Meskipun sudah pernah mendengar tentang VBAC setelah bayi sebelumnya saya lahir, tidak pernah terpikir hal itu dapat dilakukan tanpa resiko. 

Melalui Facebook, saya bertemu dengan, Dani, dia berhasil melakukan VBA3C dengan jarak antara kelahiran dan hamilnya lebih dari 2 tahun, sedangkan saya hanya 5 bulan. Selama ini saya tahunya bahwa kehamilan jarak dekat beresiko tinggi terhadap persalinan normal, maka biasanya ibu diwajibkan untuk operasi sesar.

Lewat Facebook juga, saya bertemu dengan Rachael Ouwajen. Dia menceritakan tentang seorang ibu yang sukses menjalani VBA4C. Jarak antara kelahiran dan hamilnya sama dengan saya, 5 bulan. Mengetahui hal itu, saya begitu kagum dengan kemampuannya dan mulai muncul keyakinan bahwa saya pun bisa melakukannya.

Mencari dukungan

Tujuh bulan menuju tanggal perkiraan kelahiran, saya akhirnya dengan mantap membuat keputusan untuk mencoba VBA3C. Saya mulai mencari bidan atau dokter yang mau mendukung dan membantu saya menjalaninya. Selama berminggu-minggu usaha saya tidak membuahkan hasil. Kebanyakan mereka skeptis terhadap rencana saya.

Memasuki usia kehamilan 4 bulan, suami memberi ultimatum –segera temukan dokternya atau batalkan rencana VBA3Cnya. Saya kehabisan akal dan meminta pertolongan Allah.
Beberapa hari kemudian, doa saya terjawab. Kami menemukan dokter kandungan yg pro kelahiran- ormal pasca sesar di daerah Jakarta Selatan. Bahagia karena beliau berpengalaman sukses menangani beberapa VBA2C. 

Lalu saya berkata kepada suami, “Sebelum mengambil keputusan apapun, paling nggak konsultasi dulu sama dokter ini deh ya? Ini badanku dan aku yang akan mengalami sakit dan traumanya. Aku ga bermaksud menyakiti bayi kita, tapi setidaknya biarkan aku menemuinya dulu baru kita buat keputusan setelahnya.” Alhamdulillah, Suami setuju untuk menemui dokter tersebut.

Keberuntungan bersama kami, dokter tersebut setuju untuk membantu saya melakukan VBA3C. Dia mengatakan, “Sebetulnya, setiap rahim ibu –apakah sudah pernah melahirkan normal ataupun operasi C-secs- akan kembali ke kondisi normal 3 bulan setelah melahirkan. Saya akan membantumu jika kamu punya keberanian dan keyakinan untuk mencoba VBA3C.”

Dia juga menjelaskan bahwa tanda-tanda yang harus diperhatikan jika terjadinya robekan rahim salah satunya adalah rasa sakit di rahim ketika disentuh dan/atau bercampurnya darah dalam urin. Jika tanda-tanda itu tidak muncul maka berarti persalinan normal tetap aman untuk dilanjutkan.

Keyakinan suami pun meningkat setelah mendengar pejelasan sang dokter. Matanya memancarkan kepercayaan dan harapan. Hatiku begitu lega dan penuh rasa syukur. Setelah bertemu sang dokter suami menjadi termotivasi dan mulai meneliti tentang VBAC. Kami melihat video kelahiran alami (natural birth) di youtube bersama-sama. Akhirnya setelah berminggu-minggu berupaya meyakinkan suami, kali ini saya tidak sendirian lagi menempuh semua ini.

Plan B

Dua bulan sebelum melahirkan, sang dokter tidak setuju rencana saya untuk melahirkan secara alami, yang berarti tidak menggunakan bantuan medis seperti vacuum suction. Saya meyakini bahwa persalinan secara alami dengan minim intervensi medis akan lebih baik bagi kami, tetapi sang dokter menolak untuk membantu saya menjalani VBA3C secara alami. 

Sekali lagi, saya merasa tersungkur. Dalam usaha terakhir saya meraih dukungan, saya menghubungi orang-orang yang mungkin dapat membatu saya melalui sosial media. Bahkan saya menawarkan kesempatan untuk menjadi bagian dari pengalaman melahirkan langka kepada sebuah komunitas online yang kemungkinan disana terdapat para bidan.

Tak seorangpun merespon

Pada januari 2012 sebulan sebelum melahirkan, saya dengan Mas Reza Gunawan lagi-lagi melalui Facebook dan dari percakapan kami terungkap perihal unassisted birth (UC). 
Lalu saya mempelajari lebih jauh perihal persalinan sendiri tanpa bantuan tenaga kesehatan (Unasissted childbirth/UC).

Ketika ide ini disampaikan kepada suami, beliau langsung menolaknya. Keadaan berubah setelah saya mengapa suami untuk bertemu Mas Reza, yang dengan sabar membagi kebijaksanaan dan pengetahuannya dengan kami. Saya juga sangat gembira dengan kesempatan bertemu istrinya, Dewi Lestari, yang seorang penyanyi dan penulis terkenal.

Suami meneruskan usahanya meneliti kelahiran alami dan unassisted. Dia melahap bacaan tentang melahirkan di rumah (home birth), kegawat daruratan dalam persalinan dan pasca persalinan, serta beberapa topik yang relevan. 

Sejujurnya dalam hati, saya agak bingung dan kuatir bagaimana kami akan melakukan semuanya sendiri. Bisakah suamiku melakukannya? Dia cuma punya kurang dari sebulan untuk mempersiapkan dirinya dan saya tidak yakin waktunya cukup.

Hari itupun tiba

29 januari 2012, saya bertemu dengan seorang bidan yang bersedia mendukung saya selama proses melahirkan. Setelah berdiskusi selama 4 hari, saya berhasil meyakinkannya bahwa kami siap!

Esok harinya, saya mengalami sedikit pendarahan dan kontraksi setiap 5 sampai 8 menit. Bidan datang, setelah dicek dia mengatakan bahwa pembukaannya baru 1cm. Saya diminta bersabar dan terus berlatih napas, menjaga emosi dan nutrisi.

2 hari berlalu, tidak ada kemajuan yang berarti walaupun kadang saya mengalami kontraksi. Saya dapat merasakan si bayi bergerak maju turun ke bawah. Saya terus berdoa, memohon pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala dan tak lupa untuk mengajak bicara bayi bahwa kami tidak sendirian. Ada Allah subhanahu wa ta’ala yang selalu bersama kita dan In syaAllah kita dapat melalui semua ini bersama-sama.

1 Februari 2012, kontraksinya bertambah kuat, berjarak setiap 1 menit. Bidan datang dan mengecek, pembukaan baru 2 cm. Kehamilan sudah melewati HPL, dimana seharusnya HPL adalah 14 Januari 2012. Kami sudah melewati lebih dari 2 minggu dari perkiraan manusia.

Ketika itu, saya merasa sangat lelah dan berupaya menjaga energi dengan madu dan kurma. Semua berjalan lancar –tidak ada tanda-tanda robekan rahim walaupun mengalami sakit yang luar biasa di setiap kontraksi.

Jam 10 malam, pembukaannya sudah 4-5 cm. Secara mental, saya sempat drop karena rasa sakit yang luar biasa tak tertahankan dan merengek ke suami untuk segera ke rumah sakit memilih sesar saja. Suami menguatkan diri saya bahwa in isyaAllah kami bisa melaluinya dengan pertolongan Allah. Akhirnya saya pun tertidur karena kelelahan. 

Ketuban saya pecah tak lama setelah tengah malam dan pembukaan sudah 7-8 cm. Saya kemudian masuk ke dalam kolam air, terlihat bahwa air ketuban berwarna hijau. Sebagai dokter, selama ini saya mendapatkan informasi akan keburukan ketuban hijau. Namun ternyata itu tidaklah tepat, bukan sebagai hal yang menakutkan.

Bidan mengecek detak jantung bayi saya dan menyatakan bahwa bayi baik-baik saja. Tak ada hal yang perlu ditakutkan. Informasi yang diberikan dengan sigap oleh bidan, sangat membantu saya untuk lebih rileks dalam persalinan ini.

Tidak lama setelahnya, saya merasakan bayi terus mendesak turun keluar. Saya merasakan tubuh mengajak untuk nungging dan saya ikuti maunya tubuh ini bergerak. Bidan meminta suami untuk membantu persalinan saya. Beliau duduk di belakang saya dan terus memperhatikan bayi yang mulai keluar perlahan. Saya dapat merasakan rambutnya yang lembut.

Tiba-tiba bidan menyuruh saya merubah posisi menjadi duduk karena airnya tidak cukup banyak untuk menyambut bayi keluar dari rahim dan hal tersebut bisa membahayakan si bayi. 
Setelah saya duduk, bayi pun perlahan keluar dan disambut oleh suami saya. Hati saya dipenuhi kebahagiaan yang tak terkira saat akhirnya melihat kepala bayi keluar perlahan.
Ketika bayi keluar, terlihat bahwa tali pusat membelit lehernya. Suami diminta untuk membuka tali pusat yang membelit leher dengan perlahan. Akhirnya, Faiza lahir pada tanggal 2.02.2012 jam 02.00 dengan selamat ke pangkuan ayahnya dan kemudian diletakkan ke dada ibunya. 

Pertama kali saya menatap matanya.. Aahh.. Sungguh tak terkira kebahagiaan yang dirasakan. Dada saya bak pecah oleh luapan kebahagiaan dan airmata mengalir tanpa disadari. 

WE DID IT..!!!

Hantaman badai ketidakpercayaan banyak pihak..
Hantaman badai penghinaan banyak pihak..
Semua itu terjawab lewat kuasa Allah subhanahu wa ta’ala..

Saya berhasil dengan ijin Allah, do’a kami terkabulkan!
Saya mematahkan mitos bahwa sekali sesar maka seterusnya akan sesar. Selain itu, saya membuktikan bahwa HPL bukanlah Hari Pasti Lahir. 
HPL benar-benar hanya Hari Perkiraan Lahir, hanya sebuah dugaan berdasarkan perhitungan manusia. Sedangkan manusia tempatnya kesalahan, tiada kebenaran yang valid pada manusia kecuali Muhammad shalallaahu alayhi wa salam.

Persalinan merupakan kehendak Allah, Ia-lah yang menentukan kapan bayi lahir dan tiada yang tahu dengan tepat kapan. Semua ini tidak akan terjadi tanpa pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala. 

Keyakinan yang sejak awal hamil kali ini saya miliki bahwa jika Allah subhanahu wa ta’ala menanamkan janin dalam rahim wanita, maka sesungguhnya rahim itu kuat. Karena Allah Maha Tahu. 
Keyakinan yang semakin kuat sampai akhir, diperoleh lewat pembelajaran dengan pikiran secara terbuka dan bertanggung jawab. 

Terima kasih banyak kepada teman-teman saya yang terus mendampingi sejak awal.
Rachael Ouwejan, Dani Arnold McKenny, Maria Zain rahimahullah, Lynsey Bartram, Emma Kwasnica dan Natacha Dority yang sudah mendukung dan menyemangati saya dalam suka dan duka sampai akhir.

Setiap wanita dapat melahirkan secara normal. Persalinan sejatinya adalah proses alamiah, pengalaman yang begitu indah dan menyenangkan 

Percayalah kepada Allah, IA-lah yang menentukan kapan bayimu lahir dan IA-lah yang menuntunmu dan bayimu melalui proses indah ini..

(Sebagian kisah ini diterbitkan di majalah terbitan Malaysia, Baby Talk, edisi “Bump To Birth, Birth-Day”, hal. 32 -33, di bulan Juni 2012.)
Semoga bermanfaat dan menjadi inspirasi bagi setiap ibu yang sedang menanti buah hati dan berada dalam persimpangan, “haruskah sesar ataukah normal?”.

Cat. Tambahan :

Sejujurnya dr riwayat kehamilan dan persalinan saya, maka seharusnya sebagai orang medis saya paham bahwa kondisi saya merupakan kontraindikasi untuk persalinan normal. Sekali lagi keberhasilan persalinan ini atas ijin Allah sebagai pelajaran bahwa ilmu manusia terbatas, jika Allah sudah berkehendak maka tiada siapapun bisa menghentikannya.

1. Janin letak kepala. 
Melewati HPL, induksi gagal dan hasilnya adalah Bayi Letak Kepala. Pembelajaran untuk saya adalah ketakutan akan melewati HPL, akhirnya berujung induksi Yang terburu-buru dan ternyata sebetulnya bayi belum turun. Sehingga induksi gagal karena janin masih diatas, belum masuk rongga panggul.

2. Robekan rahim.
Post SC pertama terjadi abses cukup lama, kosong 3 bulan dimana sebetulnya luka belum kering. Terjadi perlengketan yang cukup hebat antara dinding rahim dan perut. Menurut ayah saya yg seorang dokter bedah dimana beliau ikut dalam ruang operasi saat itu, kondisi otot rahim dan otot perut tercerabut spt daging suwir. Bayi dilahirkan prematur usia 32 minggu karena sejak kehamilan 5 bulan sudah muncul gejala robekan rahim. 

Kondisi ini sebetulnya sdh cukup untuk menjadikan diri saya menghentikan niat VBA3C. Banyak yg berkomentar negatif bahwa saya nekat. 
Well.. Saya hanya bs jawab, “Nekat itu klo modal dengkul. Alhamdulillah keberhasilan ini adl semua krn ijin Allah, dimana Allah bukakan jalan pd kami utk optimalkan pembelajaran dan do’a selama masa kehamilan. Mereka cuma bisa berkomentar, tetapi tidak tahu bgm perjuangan kami.” Jd abaikan saja mulut-mulut negatif itu. Terus fokus dg rencana yg baik.

3. Kuretase usia kehamilan 8 minggu

4. Sesar ke 3, yaitu ancaman robekan rahim. 
Kontraksi palsu cukup kuat di usia kehamilan 35 minggu, keluar flek. Saat ini saya belum mempelajari lebih jauh perihal VBAC, namun sudah mendengar soal VBAC. Sehingga keyakinan saya belumlah kuat untuk melakukan VBA2C.

(Untuk masalah tali pusat, bisa dibuka album “Lotus birth perlukah?” https://www.facebook.com/media/set/?set=a.464469667068932.1073741836.463002300549002&type=3)

image