Bahaya Fluoride

Semenjak kanak-kanak kita percaya bahwa fluoride sangat baik untuk gigi. Sekolah kita, para dokter gigi dan lembaga pemerintahan mengatakan hal itu setiap hari, dari tahun ke tahun. Mari kita lihat lebih dekat tentang kenyataan yang sesungguhnya dari fluoride.

image

“Agustus 2002 – Belgia menjadi negara pertama di dunia yang melarang penggunaan berbagai suplemen fluoride, tablet ber-fluoride, obat tetes ber-fluoride, dan permen karet ber-fluroide yang selama puluhan tahun dipromosikan sebagai batu permata untuk gigi, lalu ditarik dari pasaran, karena beracun dan menyebabkan resiko besar bagi kesehatan fisik maupun psikologis. Keputusan ini dikeluarkan oleh menteri kesaehatan masyarakat federal.” [www.shirleys-wellness-cafe.com/#belgium]

Tahun 1990, telah dirampungkan penelitian 10 tahun tentang masalah ‘racun’ sebagai Program Nasional Pemerintah Federal Amerika Serikat (bagian dari Departemen Kesehatan dan Pelayanan Masyarakat) untuk mengatur berbagai kemungkinan bahwa fluoride dapat menyebabkan kanker. Lebih mengejutkan bagi mereka, bahwa ternyata tumor tulang ditemukan pada hewan percobaan sebagai reaksi langsung pemberian fluoride. Bahkan sebelum penelitian itu selesai, Program Penelitian Nasional Masalah Racun (NTP) telah menghubungi Lembaga Perlindungan Lingkungan Hidup untuk memberi informasi bahwa fluoride bersifat karsinogenik (menyebabkan kanker).

Hypothyroidism (tiroid yang kurang aktif) saat ini merupakan salah satu masalah kesehatan yang paling umum di Amerika Serikat. Synthroid, obat yang diberikan resep para dokter untuk mengatasi Hypothyroidism, adalah obat nomor 4 yang paling banyak dituliskan resepnya oleh para dokter di Amerika tahun 2000. Gejalanya meliputi : depresi, kelelahan, bertambahnya berat badan, nyeri otot dan rasa sakit lainnya, meningkatnya kolesterol dan sakit jantung. Sebuah penelaahan awal dari penelitian kanker yg dilakukan oleh Program Toksikologi Nasional (Washington-USA) juga melaporkan bahwa tikus-tikus yang diberi sejumlah fluoride memiliki tumor tiroid, tumor rongga mulut dan tumor hati yang sebenarnya jarang terjadi; akan tetapi berita mengenai tumor-tumor ini akhirnya tenggelam dalam suasana kontroversial yang justru muncul. Menurut Dr.William Marcus -Ketua para ahli toksikologi-tenggelamnya berita tentang tumor-tumor tersebut secara politik memang disengaja dan tidak ada penjelasan yang dapat mempertahankannya secara i lmiah. Sebuah penelitian terbaru mengenai wabah penyakit oleh seorang ilmuwan Pelayanan Kesehatan Masyarakat, Amerika Serikat menemukan bahwa kemandulan pada perempuan berhubungan dengan meningkatnya level kandungan fluoride dalam air minum (3 ppm).

“Dr.Phyllis Mullenix dari Institut Penelitian Forsyth Universitas Harvard (sebuah institut penelitian gigi) menerbitkan sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa fluoride lebih efektif dalam menurunkan tingkat IQ pada anak, dibandingkan timah” [excerpt fromhttp://www.naturalrearing.com

Ketidakbergunaan fluoride sendiri sudah lama diragukan di seluruh dunia untuk waktu yang lama. Setelah bertahun-tahun setidaknya 12 pemenang penghargaan nobel di bidang obat-obatan dan kimia telah memperingatkan berbagai resiko kesehatan yang berhubungan dengannya. Mengkonsumsi fluoride khususnya pada anak-anak bukan hanya tidak berguna, tapi jelas-jelas berbahaya. Gigi dan tulang yg kekurangan kalsium akibat fluoride bahkan diberi nama fluorosis. Fluoride memiliki sifat yang sangat reaktif dan dapat terserap ke dalam tulang-tulang dan sel-sel hingga terakumulasi. Memang, permukaan gigi menjadi lebih keras, tapi gigi itu sendiri menjadi lebih rapuh. DAri banyak penelitian temuan itu muncul bahwa fluoride bertanggung-jawab dalam beberapa masalah kesehatan seperti : kerangka tulang yang menjadi tidak beraturan, keropos tulang, bahkan hingga kanker tulang. Otak juga tidak dapat terhindar karena fluoride menyebabkan pengaruh negatif pada sistem saraf dan sistem kekebalan tubuh, dan pada anak-anak (khususnya) dapat menyebabkan kelelahan yang kronis, IQ rendah, sulit berkonsentrasi, kelesuan dan depresi.

Apakah anda pernah melihat anak-anak dan remaja di antara keluarga dan teman-teman anda yang mempunyai noda atau flek pada gigi mereka? atau memiliki garis-garis gelap yang terlihat seperti lubang? Itu adalah efek dari mendpatkan fluoride yang berlebihan. Pada sebagian komunitas, kejadian gigi fluorosis (keropos), merupakan tanda pertama yang dapat terlihat dari kontaminasi fluoride. Fluoride yang diberikan melalui mulut untuk berkumur dan memperkuat gigi pada anak-anak sangatlah beracun dalam perkembangan biologis mereka, rentang hidup dan kesehatan mereka secara umum. Penelitian di Cina telah memperlihatkan adanya korelasi bahwa bahkan dengan pemberian dosis fluoride yg rendah pun telah menyebabkan berkurangnya kecerdasan pada anak.

Mungkin Anda akan berpikir bahwa sedikit fluoride dalam pasta gigi anda tidak akan menjadi masalah, toh anda tidak menelannya. Tapi apakah anda yakin bahwa selama anda dengan setianya memakai pasta gigi tersebut, anda tidak pernah dengan TIDAK SENGAJA menelannya? Apalagi dengan kadar yang rata-rata sebesar 0,8% dari kandungan total dari pasta gigi anda. Dan jangan lupakan ketika anda masih kanak-kanak dan baru mulai belajar menyikat gigi dengan pasta gigi yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa hingga memberi sensasi seperti sedang mengulum es krim atau permen. Apakah anda masih berani berkata bahwa anda tidak pernah menelannya, pada saat itu [sekedar untuk mencicipi rasanya yang manis]?

Citra Fluoride yang positif di Amerika (bahkan hampir di seluruh dunia) mungkin karena manipulasi yg seolah-olah baik namun tidak menerima berbagai temuan penelitian dan memecat para ilmuwan yang berani mempertanyakan keuntungan fluoride. Dr.William Marcus, sendiri kehilangan pekerjaannya di tahun 1991 setelah dia bersikukuh lewat hasil penelitiannya yang membuktikan bahwa fluoride dapat menyebabkan kanker.

Fluoride, Gigi & Bom Atom, oleh Joel Griffiths & Chris Bryson – Juli 1997. Setelah hari-hari PD II, ketika Amerika memenangkan peperangan dengan membuat bom atom pertama di dunia, para pemimpin kesehatan masyarakat telah membiarkan dan menyatakan bahwa dosis kecil dari fluoride aman bagi manusia, dan baik untuk gigi. Pernyataan aman tersebut kini harus diuji kembali dengan sejelas-jelasnya, terkait dengan penemuan sebuah bundel dokumen-dokumen rahasia jaman PD II yang telah berhasil diperoleh Griffiths & Bryson. Termasuk di dalamnya, dokumen-dokumen yang tidak diklarifikasi dari Proyek Manhattan, tentang kelompok militer Amerika yang membuat bom atom. Menurut dokumen-dokumen tersebut, Fluoride adalah zat kimia kunci dalam memproduksi bom atom. Jumlah Fluoride yang sangat banyak, jutaan ton sangat esensial untuk membuat bom uranium dan plutonium alias senjata nuklir selama perang dingin. Dokumen-dokumen itu menyebutkan, salah satu zat kimia yang dikenal paling beracun adalah fluoride, yang muncul secara cepat sebagai racun kimiawi dari program bom atom Amerika Serikat, baik untuk para pekerjanya maupun masyarakat di sekitarnya. [www.rvi.net/~fluoride/fluoride_teeth_atomic_bomb_.htm]

“Isi dari tube pasta gigi yang mengandung fluoride, ukuran keluarga cukup untuk membunuh anak seberat 12 kilogram” [www.all-natural.com/fleffect.html]

Fakta-Fakta Ilmiah : Efek Biologis dari Fluoride

# Fluoride telah digunakan untuk memodifikasi perilaku dan suasana hati manusia. Diketahui bahwa ada fakta yang menunjukkan sejumlah fluoride yang ditambahkan ke dalam air minum untuk para pesakitan dapat membuat mereka jinak dan dapat dicegah untuk bertanya pada yang berwenang, baik di penjara Nazi dalam Perang Dunia II maupun dalam penjara Soviet di Siberia. # Fluoride memiliki efek kecil atau bahkan nyaris tidak memberi efek sama sekali dalam mencegah kerusakan pada manusia. Pada tahun 1990, Dr John Colquhoun dipaksa memasuki pensiun awal di selandia baru, SETELAH ia melakukan penelitian dan menemukan bahwa tidak ada perbedaan kerusakan gigi antara yg diberi fluoride dengan yang tidak. Ia juga menemukan bahwa sejumlah anak-anak yang diberikan fluoride, telah menderita keropos gigi (fluorosis). # “Fluoridasi adalah kasus penipuan ilmiah terbesar abad ini. ” ujar Robert Carlton, Ph.D., mantan ilmuwan EPA Amerika Serikat di Perusahaan Broadcast Kanada, 24 November 1992. [www.anglicancommunion.org]

Buku yang berjudul “The Fluoride Deception” (penipuan dengan fluoride), merupakan salah satu cerita tentang rahasia besar pada masa kini. Tentang bagaimana berbagai racun di tempat kerja yg mencemarkan dan sebagai polutan dari jaman PD II, telah ditambahkan pada air minum dan pasta gigi kita. Sebuah penyalahgunaan kekuasaan yang kronis & sebuah industri negara yang mensponsori propaganda kesehatan; Buku ini mendeskripsikan bagaimana militer dan para ilmuwan industri, serta para pejabat kesehatan “mengubur” informasi tentang fluoride yang berpotensi untuk merusak kesehatan manusia, sementara mereka mempromosikan penggunaannya untuk kesehatan gigi.

Sebagian besar negara-negara Eropa, termasuk di dalamnya Jerman, Swedia, Perancis dan Belanda sudah melarang penggunaan Fluoride untuk kesehatan masyarakat. Sayangnya, di Indonesia, hampir tidak ada pasta gigi yg bebas fluoride. Termasuk “siwak”,”oral-B” dan “enzim” sekalipun. Walaupun kadar fluoride pada “Enzim” termasuk yg paling rendah [0,24%] dibandingkan merk lain yang rata2 mencapai hingga 0,8%. [Pi]

sumber dan adaptasi diambil dari:

– Bayang-bayang Gurita, Jerry Duane Gray, 2005, Iqra Insan Press : Jakarta Selatan

– http://www.all-natural.com/fleffect.html

– http://www.anglicancommunion.org

– http://www.chemtrailpatrol.com/cpr_fluoride_menu.htm

– http://www.naturalrearing.com

– http://www.rvi.net/~fluoride/fluoride_teeth_atomic_bomb_.htm

– http://www.shirleys-wellness-cafe.com/#belgium

– http://www.fluoridealert.org/fluoridation.htm#8

– http://www.globalhealingcenter.com/natural-health/how-safe-is-fluoride/

– http://www2.fluoridealert.org/Alert/United-States/National/Toothpaste-How-Safe

Advertisements

10 Kekeliruan dalam Komunikasi

Bismillahirrahmaanirrahiim,
Sebuah tulisan yang saya peroleh dari Catatan FB mba Rumah Zahro. Tulisan ini merupakan rangkuman seminar dari ibu Dra. Elly Risman, Psi. dalam seminar: Peran Komunikasi Orang Tua dalam Membangun Pribadi Anak yang Tangguh Menyongsong Era Milenium Development Goals di Cilegon, 21 April 2011. Semoga bermanfaat untuk meningkatkan keharmonisan antara orang tua dan anak

10 Kekeliruan dalam Komunikasi
Komunikasi yang kurang baik antara orang tua dengan anak, suami dengan istri, maupun sebaliknya adalah penyebab tingginya angka kenakalan remaja dan perceraian suami istri. Bukan masalah frekuensi komunikasinya. Sering berkomunikasi tapi tidak sampai pada tujuan alias ‘gak nyambung’ bisa juga menjadi masalah.

Elly Risman menyebutkan beberapa masalah yang muncul karena miss-communication:
– Pacaran ( selingkuh buat suami/istri)
– Seks bebas
– Aborsi
– Putus sekolah
– MBA (Married By Accident: Nikah karena hamil duluan)
– Perceraian
– Narkoba
– HIV/AIDS
– Bunuh Diri

Beberapa tahun yang lalu, kita sempat dikejutkan oleh kasus anak 5,9 tahun yang gantung diri karena dimarahi ayahnya malam hari sebelum tragedi itu terjadi. Padahal sebelumnya, ia habis dimarahi ibunya karena tidak mau mandi sore. Keesokan paginya, ia ditemukan gantung diri dengan tali melilit lehernya di sebuah rumah kosong. Anak tersebut bernama Renaldi Sembiring. Ayahnya adalah seorang pengacara di Semarang (ada juga yang bilang hakim). Ini hanya 1 kasus dari puluhan kasus bunuh diri anak akibat orang tua tidak memahami perkembangan jiwa anak dan mengabaikan perasaan mereka ketika berkomunikasi. Na’udzubillahimindzalik.

10 kekeliruan dalam berkomunikasi yaitu:
1. Bicara tergesa-gesa.
Pemandangan yang lazim di pagi hari ketika ibu berteriak kepada anaknya: “Cepaattttt…!! Sudah jam berapa ini ayo mandi siapin baju jangan lupa buku-bukunya masukin ke tas langsung sarapan tuh sepatu dan kaos kakinya di belakang pintu buruan keburu mobil jemputan dateng pokoknya kalo ketinggalan jemputan Mama gak mau nganter!”

Walah, paleng’e… Butuh konsentrasi tinggi untuk menangkap puluhan kata yang diteriakkan bagai laju kereta api itu. Apakah anak mendengarkan? Bagaimana responnya? Paling ia berjalan gontai ke kamar mandi seperti tidak terjadi apa-apa. Karena sudah terbiasa dengan kicauan itu setiap hari.

Lantas, apa gunanya teriak-teriak gak jelas seperti itu? Bagi orang tua:
– Menghabiskan energi
– Dongkol
– Makin emosi

Bagi anak:
– Makin sebel sama orang tua
– Gak ngaruh dibegitukan, sudah biasa.

Solusinya?
Tidak tergesa-gesa ketika bicara, atur kalimat, jangan emosi sehingga lawan bicara mengerti apa yang kita komunikasikan.

2. Tidak kenal diri sendiri.
Mari kita uji coba. Sebutkan 3 keunikan Anda yang berbeda dari orang lain. Entah itu kebiasaan, hobby, warna kesukaan. Waktunya 1 menit!

Apakah Anda kesulitan menemukan keunikan Anda? Ya, kebanyakan peserta seminar memang bingung. Alasannya: tergesa-gesa, keburu waktu, panik. Namun alasan sesungguhnya adalah: Anda tidak mengenal diri Anda sendiri. Bukankah kalau kenal- bisa reflek menyebutkan keunikan diri sendiri?

Lantas, apakah kita sudah mengenal keunikan pasangan hidup kita? Anak kita?

Disinilah pentingnya mengenali lawan bicara ketika sebelum berkomunikasi. Adakalanya suami begitu angkuh dan cuek ketika istri nangis bombay saat berantem. Bisa jadi karena waktu kecil, sang suami dididik ayahnya kalau : laki-laki gak boleh nangis!. Besarnya pun ia akan anti nangis, malah tidak suka melihat orang nangis. Atau istri begitu sensitif karena sering diremehkan oleh orang tuanya.

Atau anak kita :
Usia 5 tahun, ketika disuruh: “Sayang, buangin sampah, dong, ketempatnya!”. Sang anak pasti dengan senang hati melakukannya.
Usia 7 tahun, ketika disuruh hal yang sama, responnya : “Ntar!” atau “Kok, gak mamah aja?”
Usia 10 tahun, responnya : “Capek!” alias menolak untuk diperintah.

Ternyata, cara bicara orang tua yang itu-itu saja tidak membuat anak makin pintar atau nurut. Anak jenuh dan bosan dari kecil diperlakukan seperti itu. Itulah mengapa orang tua harus kenal, tanggap dan menggunakan bahasa komunikasi yang berbeda sesuai perkembangan jiwa dan pertambahan umur anak.

Kenali lawan bicara kita.

3. Lupa : setiap individu U N I K.
Dari jutaan sperma yang menghampiri sel telur, hanya 1 sperma yang paling unggul, paling kuat, dan paling berkualitas yang mampu menembus ke dalam sel telur dan membuahinya. Baik sel sperma maupun sel telur turut bertanggungjawab menghasilkan zigot yang terlahir sebagai bayi mungil untuk orang tuanya. Tapi kenapa kebanyakan suami selalu membebankan pengasuhan dan pendidikan anak kepada istri? Bukankah anak itu hasil dari suami istri berdua?

Kemudian, betapa banyak orang tua yang kesulitan memiliki anak, bersedia mengeluarkan uang ratusan juta rupiah dan melakukan pengorbanan besar agar ada suara tangis bayi di rumahnya.

Tetapi, mengapa orang tua yang dimudahkan Allah untuk memiliki keturunan tidak mensyukuri hal ini?

Tidak jarang ketika orang tua greget melihat kenakalan anaknya lantas berkata, “Iiiiiiiiihh..!! Sebenarnya kamu anak siapa, siihhh!!!”
Jika terus menerus dibegitukan, lama-lama anak akan bertanya, “Iya, yah, aku ini anak siapa, sih?”

Kembali, bahwa anak terlahir, apapun keadaannya, kekurangan dan kelebihannya, itu atas kuasa Allah Azza wa Jalla semata. Ada anak yang terlahir normal, mewarisi kecerdasan, dan kelincahan. Ada pula yang terlahir dengan kekurangan seperti:dislexia (kesulitan membaca), disgrafia (kesulitan menulis) dan diskalkulia (kesulitan berhitung). Semua itu adalah keunikan anak yang harus dihargai, disyukuri. Tentunya orangtua tidak bisa memaksa anak yang dislexia untuk cepat membaca, anak diisgrafia untuk menulis indah, dan seterusnya. Perlakukan anak sesuai keadaan dan keunikannya.

Setiap individu berbeda. Perlakukan ia sebagai pribadi yang unik.

4. Perbedaan Needs and Wants (Kebutuhan dan keinginan)
Anak menyukai design grafis, tapi orang tua ingin anaknya jadi dokter. Jelas dua kebutuhan dan keinginan yang berbeda ini menjadi pemicu salah paham dan ketidakharmonisan. Orang tua tidak punya banyak waktu untuk mempertimbangkan keinginan anak. Orang tua mengabaikan kebutuhan anak. Akhirnya berujung pada pemaksaan kehendak dari orang tua kepada anaknya. Adu urat syaraf sudah menjadi skenario sehari-hari.Padahal yang menjalani hidup adalah anaknya, bukan orang tuanya. Yang kenal kemampuan diri sendiri adalah anak, bukan orang lain.

Ada pula orang tua yang sibuk bekerja dan memberikan apapun kebutuhan materi yang diperlukan anak. Padahal anak membutuhkan kasih sayang orang tuanya. Tapi orang tua merasa sudah mencukupi keinginan dan kebutuhan anak. Maka hancurlah hubungan. Satu sama lain tidak nyambung. Anak butuh A, orang tua ngasih Z.

Sadari dan pahami bahwa keinginan dan kebutuhan tiap individu itu BERBEDA!

5. Tidak membaca bahasa tubuh
Ketika anak memecahkan gelas, otomatis sang ibu berteriak dan memarahi. Tak jarang juga yang main fisik dengan memukul atau mencubit.

Seandainya ada rekaman video ketika anak menyenggol gelas dan memecahkannya, perhatikan ekspresinya. Mulutnya menganga, sekujur tubuhnya tegang tak berkutik, kedua tangannya kaku, ekspresinya menunjukkan kekhawatiran, rasa penyesalan dan ketakutan kalau dimarahi. Jika sang ibu membaca bahasa tubuh anak, masihkah tega untuk memarahinya? Anak sudah ketakutan, masih ditambah dengan dimarahi dan dipukul. Begitu berhargakah sebuah gelas dibandingkan perkembangan jiwa anak?

Lidah bisa berbohong, tapi bahasa tubuh tidak. Baca bahasa tubuh.

6. Tidak mendengar perasaan.
Bayangkan anak Anda, pulang sekolah, kehujanan, membawa ransel berat di punggungnya, pulang ke rumah dengan sepatu belepotan lumpur. Ia masuk dengan wajah cemberut, melepas sepatu yang penuh lumpur dengan menendangnya, dan melempar tas ke mana saja. PadahalPadahal Anda sudah susah payah menyapu, mengepel dan membereskan rumah.

Apa yang Anda lakukan?
“Hei, apa-apaan kamu! Masuk gak salam, sepatu dilempar sembarangan, lantai jadi kotor, tuh! Ayok beresin! Taruh yang bener!”

Sebagai anak, apa yang akan dilakukan? Sudah pasti langsung masuk kamar dan menguncinya. Males ngomong dengan ibunya.

Kita ulang lagi kejadian di atas. Ketika anak melempar sepatu dan tasnya, perhatikan ekspresinya. Ya! Ia lelah, capek, lapar, pusing.

Ketika Anda mengenali perasaannya, dan berkata, “Wah, anak ibu sudah pulang. Capek, ya?”

Kira-kira, apa respon anak?
“Ngga!” sambil manyun. Setidaknya ia mau ngomong.

Jangan menyerah, coba kenali perasaan yang lain dan jangan takut salah. “Oh, pasti laper?”
Jawab anak, “Ngga!”

Ibu : “Lagi kesal?”
Anak : “Iya! Tadi PR aku ketinggalan di rumah. Aku disetrap Pak Guru. Eh, si Riko ngetawain aku di bangkunya. Pulang sekolah aku mau jajan, laper, tapi uangku hilang. Terus si Riko dan teman-temannya menjegal kakiku sampai aku jatuh. Aku kesakitan, tapi aku paksa aja karena mau pulang. Uuhh, di tengah jalan malah hujan. Mana becek lagi!”

Wow, ternyata masalah yang dihadapi anak begitu bertubi-tubi. Perasaan dia sedang marah, kesal, dongkol dan capek. Masihkah tega memarahinya?

Dari dua kejadian di atas, manakah komunikasi yang baik?
Dengarkanlah perasaan. Tandai pesan dari gelagat dan bahasa tubuhnya. Jangkau perasan lawan bicara. Buka komunikasi dengan menamai perasaan lawan bicara, misal: Capek, ya? Marah? Wah, kesal, dong?.
Jangan takut salah, karena lawan bicara akan dengan senang hati membetulkan. O,ya, kalau ibu merespon dengan kata, “Duh, kasihan anak ibu.” Itu tidak tepat. Karena kasihan itu adalah perasaan ibu. Bukan perasaan anak. Dengan menyebut seperti itu, sama saja dengan menghentikan curhatan anak. Konsentrasilah pada perasaan anak. Biarkan emosi dan permasalahannya keluar sehingga ia tenang.

7. Menggunakan 12 gaya populer.
a. Memerintah.
b. Menyalahkan
c. Meremehkan
d. Membandingkan
e. Mencap/label
f. Menasehati
h. Membohongi
i. Menghibur
j. Mengritik
k. Menyindir
l. Menganalisa.

(Catatan penulis: yang dimaksud memerintah, menasihati dan menghibur di atas adalah ketika dilakukan dengan cara yang salah)

-Memerintah :
“Eh.. eh.. eh… jangan lewat situuu…!! ntar jatuuhhh..!!!”
Tapi anak makin penasaran, malah tambah ngebut main sepedanya. Akhirnya si anak beneran jatuh dan nangis sekencang-kencangnya.

-Menyalahkan
“Naaahh…kaann!! Jatuh juga! Mama bilang apa tadi? Kamu sih dikasih tau gak mau denger!”
(Ya, iya, tau. Abisnya Mama gak bilang di situ ada lobang. Kalau bilang ada lobang kan, saya gak akan lewat situ!”)

– Meremehkan
“Halaaah, luka kecil aja nangis!” Anak meringis kesakitan, sambil megangin lututnya yang lecet dan berdarah. Kagetnya juga belum hilang. (Luka segede ini masak dibilang kecil? Jadi luka gede itu seperti apa, yak?)

– Membandingkan
Anak dibawa ke dalam rumah. Di sana ada papanya. Kata papa, “Kemarin temen kamu, si Difta, jatuh dari sepeda gak nangis, tuh!” (Beeu… dia ya dia, gue ya gue!)

– Mencap/ label
Kata papa lagi, “Jangan cengeng, ah! Anak papah gak ada yang cengeng!”. (Ini nahan sakit bukan cengeng, plus sebel! Lagi sakit bukannya dihibur!)

– Mengancam
“Kalau masih nangis gak dibeliin mainan lagi, lho!”. (Ya, elaaahh….ditambah ngancem lagi, sebeeellll bin benciiiii!!)

– Menasihati
“Lain kali, kalau mama ngomong itu didenger yah!”. (iya, iya udah tauuuuuuuuuuuuuukkkkkkkkkkkkkk!!)

– Membohongi & Menghibur
“Ah, luka cemen gitu mah besok juga sembuh!”
Keesokan harinya, ketika mandi pagi, lukanya terkena air dan terasa perih. Pikir anak: “Sakiiit, kata mama papa lukanya sembuh besok, ini kan udah besok, kok belum sembuh?”; anak bingung. Ia tahu kalau papa mamanya berbohong. “Berarti bohong itu boleh, kan papa mama udah bohongin aku.” Si anak belajar bohong langsung dari orang tuanya sendiri.

-Mengritik
“Kamu tuh kalau dibilangin suka ngeyel, gak mau denger! Tau rasa kan akibatnya!”. (Isi sendiri deh, gimana perasaan anak kalau dibegitukan, hehehe)

– Menyindir
“Biasanya, kalau anak bandel itu suka sial nasibnya. Jatuuhh melulu!”. (…………..)

– Menganalisa
“Kalau seorang anak tidak mendengar nasihat ibunya, sudah pasti kualat tuh. Papa yakin kamu denger peringatan mama, tapi kamu langgar, kan? Mangkanya kamu jatuh. Itu peringatan buat kamu supaya lain kali jangan diulangi lagi!”. (Zzzzzzzzzzzzz)

Akibat menggunakan 12 gaya populer tidak pada tempat dan porsinya alias sekenanya:
– Anak tidak percaya pada perasaannya sendiri. “Kata saya sakit, tapi kata mama, segini itu gak sakit.”
– Tidak percaya pada diri sendiri.

8. Tidak memisahkan: Masalah Siapa?
Ketika anak pulang sekolah, ia baru sadar kalau tugas prakaryanya yang belum selesai ketinggalan di rumah temannya. “Ibu,…tugasku ketinggalan di rumah temen. Padahal besok harus dikumpulin. Kalau belum selesai dan gak dikumpulin, ntar aku dihukum bu guru. Anterin, dong, bu…!”

Sebagai orang tua tentu tidak tega melihat anaknya susah. Pilihannya dua, membantu atau membiarkan. Salah memilih tindakan, akan berakibat fatal bagi perkembangan anak.

Tapi, sebagai orang tua harus bisa memisahkan masalah siapa. Prakarya ketinggalan di rumah teman adalah masalah yang ditimbulkan anak. Bukan masalah orang tua. Ajarkan anak untuk menyelesaikan masalahnya. Apapun pilihan anak, pasti ada konsekuensinya.

Jika orang tua berhasil dalam tahap ini, maka anak terbiasa untuk berpikir, memilih dan mengambil keputusan. Anak pun akan menjadi pribadi yang mandiri dan bertanggung jawab.

Anak perlu BBM : Berfikir – Memilih – Mengambil Keputusan.

9. Kurang mendengar aktif.
Betapa banyaknya orang tua yang sok tahu permasalahan anak padahal dia tidak tahu apapun. Ketika anak mendapat nilai jelek, kesimpulan orang tua :malas belajar. Padahal ia sedang bermasalah dengan kesehatan matanya, temannya atau cara pengajaran gurunya.

Orang tua tidak punya waktu untuk mendengarkan permasalahan anak. Tidak heran banyak anak yang tidak patuh pada orang tua sendiri tapi nurut pada guru (yang baik) atau orang lain. Hal itu dikarenakan orang tua tidak menempatkan diri sebagaiproblem solving tapi malah nambah problem anak.

Jadilah cermin untuk menjadi pendengar aktif.

– “oo.. begitu?”

– “Hmm… masya Allah..”

– “… terus?”

– “Sedih bener, dong?”

– “Kecewa, ya?”

– “… hmm, mangkanya kamu marah betul…”

Menjadi pendengar aktif akan membuka komunikasi dan hubungan yang harmonis dengan lawan bicara.

10. Selalu menunjuk, “kamu!”
“Kamu, tuh, ya, jadi anak bla bla bla…!”
“Kamu, kok, begitu? bla bla bla..!”

Lawan bicara akan tersudutkan dan reflek untuk membela diri sehingga terjadilah cekcok.
Seharusnya:
Sampaikan pesan S A Y A:
“Saya……. (sampaikan perasaan Anda)…….kalau ……… karena………..

Contoh:
“Papa tidak suka kalau kamu pulang malam karena berbahaya untuk kesehatanmu.”

—————- THE END ——————

Note : Catatan ini bukan antara orang tua dengan anak saja, tapi bisa juga direfleksikan kepada suami/istri atau siapapun lawan bicara kita.

Semoga bermanfaat ^^

Bagi temans yang ingin nge share/copas/sebarluaskan, dipersilakan.

Alhamdulillahirobbil’alaamiin.

image